Momentum politik di Indonesia dalam dekade terakhir seringkali berujung pada pembelahan dalam masyarakat, Eforia Pemilu sebagai pesta rakyat Indonesia tidak berbanding lurus dengan kematangan masayarakat kita dalam menghadapi perbedaan pendapat dan perbedaan pilihan, praktik-praktik kecurangan, Black Campain dan Produksi Hoaks yang terus menerus seakan menjadi post truth di masyarakat.
Kondisi tersebut mengingatkan saya pada Pertandingan Sepak Bola sebuah Olahraga yang cukup digandrungi khususnya masyarakat Indonesia dengan segala problemanya, Jika di Sepak Bola kemenangan menjadi tujuan pertandingan di Kontestasi Politikpun demikian seluruh peserta pemilu tentu menjadikan kemenangan sebagai tujuan dengan segala taktik dan strategi bahkan tidak sedikit pertandingan diwarnai dengan tackling keras dan praktik-praktik kecurangan dalam pertandingan namun setiap pertandingan memiliki aturan dan waktu bermain tersendiri sehingga bagaimanapun strategi dan taktik yang diterapkan pada akhirnya pemenang akan ditentukan jika waktu pertandingan telah selesai.
Dalam setiap hasil pertandingan akan selalu ada pro dan kontra dalam menyikapi hasil pertandingan tersebut baik itu dari sisi kuantitas terlebih lagi dari sisi kualitas hasil pertandingan itu sendiri. Komentar tentang kepemimpinan wasit, hakim garis bahkan panitia pertandingan akan menjadi sorotan pengamat yang menarik diperbincangkan karena menjadi salah satu parameter kualitas dari pertandingan tersebut, begitu juga Politik orang akan ramai membincang perolehan suara dari masing-masing kontestan pemilu dan tidak sampai disitu kualitas pemilu akan ditakar dengan melihat independensi Penyelanggara Baik KPU maupun Bawaslu yang muaranya akan menjadi perbincangan hangat para pengamat Politik Nasional hingga pengamat politik “Warung Kopi”. tentu kita berharap perbedaan pendapat yang acap kali dipertontonkan para pengamat dan komentator berdampak pada pencerahan dan pengembangan literasi masyarakat baik itu literasi sepak bola terlebih literasi politik, namun demikian realitas hari ini menunjukkan betapa dibutuhkannya Sportifitas tidak hanya pada pemain yang bertanding dilapangan atau kontestan peserta pemilu akan tetapi para penonton ataupun masyarakat luas sangat dibutuhkan sikap sportifitas dalam menyikapi hasil pertandingan cukuplah peristiwa Kanjuruhan memberikan kita pelajaran besar terhadap kekacauan pertandingan yang berdampak tragis dan sangat merugikan suporter dan para pecinta sepak bola tanah air dan merusak citra persepakbolaan tanah air di mata dunia dan tentu kitapun tidak ingin itu terjadi pada Iklim Politik dan demokrasi di Negara Kita.
Dalam pertandingan olahraga seringkali kali kita berorientasi pada Pemain, Wasit dan hasil pertandingan lalu abai akan pentingnya mewaspadai regulasi dan peraturan liga bahkan peraturan pertandingan yang bisa saja menjadi faktor yang membuat tim kebanggaan kita kalah dan kitapun tidak bisa berbuat apa-apa karena wasit dan aparat pertandingan berlindung pada aturan main yang sudah ditetapkan, Saya merasakan Kondisi ini mirip dengan Pemilu 2024 kali ini beberapa kelompok menginginkan dan mendukung Calon Presiden pendukung perubahan namun prosentase hasil pilpres tidak berbanding lurus dengan prosentase hasil perolehan partai politik pendukung perubahan padahal kita tentu menyadari bahwa aturan merupakan produk politik parlemen. Wallahu Wa’lam

Komentar
Posting Komentar